Rabu, 03 Juni 2009

Ali Si Bocah Teladan



Inilah indonesia. Kemiskinan menjadi salah satu masalah utama yang tidak akan pernah terselesaikan. Ketika indonesia meminta kepada anak bangsa untuk melanjutkan negeri ini, mereka tidak merencanakan dengan baik. Pembangunan tidak merata mengakibatkan anak bangsa menjadi yatim. Yatim atas pendidikan yang ada sekarang. Kemiskinan menjadi momok bagi mereka untuk mengenyam pendidikan.

Namun, kemiskinan bukan menjadi kendala bagi seorang anak berumur 12 tahun dalam mengejar cita-citanya. Ia adalah Ali. Ia kini mengenyam pendidikan di SD Jatinangor, Cikuda, kelas 6. Baginya, pendidikan adalah nomer satu. Tidak banyak anak yang memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan seperti Ali.

Meskipun tidak didukung dengan dana yang cukup, Ali bersikeras untuk tetap sekolah demi menggapai cita-cita. Sekolah atau pendidikan dimata Ali adalah tempat dimana ia tidak menjadi bodoh. Keinginannya menjadi manusia berpendidikan dienyam sedini mungkin. Ia pun berniat untuk menjadi seorang pilot kelak.

Kemiskinan tidak menjadikan dirinya seorang yang tidak beruntung. Hal itu justru dijadikan motivasi bagi Ali ketika anak yang lain mampu bersekolah dengan harta yang mencukupi. Dirinya tidak mengeluh saat hari-harinya dihabiskan untuk berdagang membantu keluarga serta mencari uang jajan untuk dirinya.

Kondisi ekonomi keluarga yang sulit menjadikan Ali terbesit untuk membantu keluarga dengan berdagang keripik di kampus Fikom Unpad Jatinangor. Keripik yang berhasil ia jual menghasilkan untung sebesar Rp. 200. Tak ayal, mahasiswa pun kadang turut membantunya. Selain menjual keripik, ia juga menjual koran.

Ali merasa dirinya harus membantu ibunya, Alfian yang hanya bekerja sebagai tukang cuci baju sementara ayahnya, Samin bekerja sebagai loper koran. Kondisi ekonomi yang menjerat semakin membuat Ali menjadikan hidupnya tidak seberuntung anak-anak yang lain.

Sepulang sekolah, Ali bergegas ke kampus untuk menjajakan dagangannya. Meski sempat dilarang oleh ibunya untuk bedagang namun itu tidak membuat Ali patah arang. Alasan yang kuat yang dimiliki oleh bocah itu membuat ibunya merelakan anaknya berdagang.

Dibalik kesehariannya berdagang, Ali ternyata seorang yang religius. Ia sempat melontarkan pernyataan bahwa dirinya tidak ingin menjadi orang kaya atau banyak harta. Ia berpikir dengan kaya harta, dirinya akan melupakan sholat. “Sholat kan perintah Allah, jadi takut aja klo jadi orang kaya, takut ninggalin sholat sama dimarahin sama Allah”, ucap Ali. Ia juga bersyukur kepada Allah atas rejeki yang diberikan-Nya. Itulah Ali dengan segala kesederhanaan dan segala perjuangannya.

Ketika anak-anak yang lain bercengkerama, ia masih harus berdagang demi sesuap nasi dan sejengkal pendidikan. Sosok Ali merupakan teladan yang harus dicontoh tidak hanya untuk anak seumurnya tetapi juga bagi mahasiswa, dosen, dan semua orang. Tidak semua orang beruntung dalam hidupnya.

Dan ingatlah, jika dirimu merasa tidak beruntung, lihatlah disekelilingmu, masih ada yang lebih tidak beruntung daripada kamu sekalian. Ali memberi tahu kita untuk bersyukur dan menghargai hidup dengan kemampuan yang kita miliki. Senyum Ali adalah senyum bagi kita semua. Semoga bangsa ini tidak melupakan generasi baru negeri ini seperti Ali.

10 komentar:

  1. ali sangat gigih dalam brjualan.. ckckkcc give aplouse...

    BalasHapus
  2. terenyuh deh bacanya...semoga kita semua dapat berkaca pada ali si penjual kripik...

    BalasHapus
  3. waaahh terharu deh bacanya..

    coba kalo orang Indonesia punya pikiran kayak Ali yang takut lupa Allah karena kaya, pasti Indonesia bisa lebih baik...

    Sukses buat Ali, semoga cita-citanya bisa tercapai..Aminn..

    BalasHapus
  4. kecil kecil udah hardworker..

    saluttt..
    jadi malu sama diri sendiri

    BalasHapus
  5. sumpah gue salut sama alii..

    BalasHapus
  6. setiap orang datang dengan kelebihan dan kekurangan. satu hal yang saya sayangkan... seringkali ali memelas atau memaksa saat jualan... ah kurang semangat

    BalasHapus
  7. namanya juga anak kecil . harusnya hidup dibawah tawa renyah. namun, inilah indonesia, dan di setiap negara pasti ada anak seperti Ali .. spiritnya ya yang kita contoh dan keluh kesahnya kita ambil untuk introspeksi diri .. kenapa ada kesah dalam bekerja . haahha. pasti adalah... heran...

    BalasHapus
  8. tapi ada juga beberap anak-anak yg sering minta" di beberapa tempat makan di Jatinangor yg tadinya kita kasihani malah ternyata menyalahgunakan uang yg kita berikan ke mereka, bung. apakah Ali benar" sosok yg seperti Anda ceritakan di atas? mohon diapresiasi ya..
    terimakasih.

    BalasHapus
  9. ali memang sosok yang saya gambarkan pada cerita tersebut. kalau anak-anak yang sering meminta-minta di jalanan itu berbeda dengan ali, ia tak mengemis. ia berjualan. kini, sepertinya waktu telah berbicara banyak. ali tak berjualan lagi. kini ia masuk ke sekolah menengah pertama. rasa malu, itulah yang ia katakan kepada saya sewaktu bertemu di jembatan cincin sambil melihat pemandangan dan matahari terbenam.

    BalasHapus